Terjemahan Bahasa Melayu

"I'm not afraid to be right and neither am I afraid to be wrong. What I'm most afraid of most is to be complacent." - Al Faedah

Al Faedah | Create your badge

"If the American people knew what we have done,

they would string us up from the lamp posts."

- George H.W. Bush-

Friday, April 13, 2012

Kerajaan Arab Saudi yang semakin rapuh


Kerajaan Arab Saudi yang semakin rapuh & era kemunculan tentera Imam Mahdi

Ashabu Rayati Suud adalah generasi akhir "Thaifah Mansurah" yang dijanjikan. Dalam sebuah riwayat tentang Thaifah manshurah disebutkan, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka, sampai akhirnya kelompok terakhir mereka memerangi Dajjal.” [1]

SAUDI KINGDOM CRUMBLING
Riwayat tersebut menjelaskan bahwa di akhir zaman, kelompok Thaifah Manshurah adalah mereka yang bergabung dengan Imam Al-Mahdi untuk memerangi musuh-musuh Islam, dimana Dajjal adalah salah satu yang akan dikalahkan oleh kelompok ini. Parameter kebenaran saat itulah adalah mereka yang bersama Al-Mahdi, sedang mereka yang menolak Al-Mahdi adalah munafik (hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits fitnah duhaima’). Sedangkan kelompok Thaifah Manshurah yang memberikan dukungan kepada Al-Mahdi telah dijelaskan ciri-ciri mereka dalam beberapa riwayat yang kemudian dikenal dengan nama Ashabu Rayati Suud.

Membicarakan kemunculan Imam Al-Mahdi, kita tidak dapat terlepas dari membicarakan satu kelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai pasukan panji hitam (Ashhabu Rayati Suud / The Black Banner). Kelompok ini memiliki beberapa ciri khusus yang akan lebih memudahkan bagi seseorang untuk mengenalinya. Meskipun demikian, tidak mudah bagi seseorang untuk menjustifikasi kelompok tertentu bahwa mereka adalah Ashhabu Rayati Suud. Sebab ciri-ciri tersebut juga banyak dimiliki oleh banyak manusia dan kelompok, sedang riwayat yang menunjukkan asal keberadaan mereka (Khurasan) merupakan sebuah wilayah luas yang dihuni oleh banyak manusia.

Riwayat tentang Ashhabu Rayati Suud yang sampai pada darjat hasan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Tsauban :

“Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu.” Kemudian beliau saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda: “Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di alas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi.  [2]

Riwayat tersebut tidak banyak menjelaskan ciri-ciri fizikal tertentu secara terperinci sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat-riwayat lainnya. Tentang maksud perbendaharaan dalam riwayat tersebut Ibnu Katsir berkata, “Yang dimaksud dengan perbendaharaan di dalam hadits ini ialah perbendaharaan Ka’bah. Akan ada tiga orang putera khalifah yang berperang di sisinya untuk memperebutkannya hingga datangnya akhir zaman, lalu keluarlah Al-Mahdi yang akan muncul dari negeri Timur.

Zaman Kemunculan Ashabu Rayati Suud

Berdasar riwayat Tsauban di atas, kemunculan Ashhabu Rayati Suud adalah di saat kemunculan Al-Mahdi. Riwayat tersebut mengisyaratkan bahwa keberadaan Ashhabu Rayati Suud dan embrionya sudah muncul jauh-jauh hari sebelum kemunculan Al-Mahdi. Sebab, kemunculan sebuah kelompok yang kelak mewakili satu-satunya kelompok paling haq di antara kelompok umat Islam yang ada jelas tidak mungkin muncul dengan mendadak dan secara tiba-tiba. Keberadaan mereka sudah ada dan embrio mereka terus tumbuh di tengah kerasnya kemelut peperangan dan kekusutan dunia masakini.

Ciri khas mereka dalam riwayat di atas – memiliki kemampuan membunuh lawan yang tidak pernah dimiliki oleh kaum sebelumnya – menggambarkan betapa dahsyatnya daya tempur dan jiwa kepahlawanan yang mereka miliki, terutama sekali jika dilihat dalam konteks sekarang dimana pihak musuh-musuh Islam telah menguasai sepenuhnya segala kemajuan dalam teknologi senjata peperangan moden. Bagaimanakah golongan ini mampu memberi kesan yang mendalam dalam percaturan dunia melainkan dengan bantuan ALLAH SWT semata-mata.

Riwayat Tsauban di atas juga mengisyaratkan bahwa kemunculan Ashabu Rayati Suud ini terjadi di saat kematian seorang Raja Saudi yang dilanjutkan dengan pertikaian tiga putra khalifah untuk memperebutkan Ka’bah.

Dalam hal ini, banyak analisa menyebutkan bahwa boleh jadi syarat tersebut akan segera menjadi realiti kenyataan dengan melihat rentetan peristiwa serta pergolakan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi itu sendiri. Tony Khater. [3], seorang penganalis politik Amerika dengan spesialisasi kajian Timur Tengah khususnya Arab Saudi, telah secara konsisten menyebutkan tentang terpecahnya pemerintahan Arab Saudi menjadi empat kelompok sebelum wafatnya Raja Fahd, seakan-akan kelompok-kelompok itu memunyai pemerintahannya sendiri-sendiri, yaitu pemerintahan Raja (Putra Mahkota) Abdullah, pemerintahan Putera Mahkota Nayef, pemerintahan Putera Mahkota Sultan, dan pemerintahan Putera Mahkota Salman.

Dengan wafatnya Raja Fahd, lalu Putra Mahkota Abdullah yang berusia 80 tahun ketika itu naik takhta menjadi Raja, maka di bawahnya terdapat tiga putera dengan pemerintahannya sendiri-sendiri yang bersiap-siap menggantikannya ketika ia wafat nanti, yaitu Putera Mahkota, Putera Mahkota Sultan, dan Putera Mahkota Salman.

Pada tahun lepas, Putera Mahkota Sultan bin Abdulaziz Al Saud pula wafat pada tanggal 23 Oktober 2011 menjadikan kini tinggal tiga putra khalifah. Sekali lagi diingatkan bahawa Riwayat Tsauban di atas mengisyaratkan bahwa kemunculan Ashabu Rayati Suud dari Khorasan ini terjadi di saat kematian seorang Raja Saudi yang dilanjutkan dengan pertikaian tiga putra khalifah untuk memperebutkan perbendaharaan bumi Ka’bah.

Pergolakan dan perkembangan politik kerajaan Arab Saudi dimasakini membuktikan dengan jelas bahawa ia berada pada tahap yang paling goyah. Raja Abdullah sudah pon berusia 89 tahun. Putera Mahkota Nayef yang berusia 78 tahun pula kini dikatakan berada dalam keadaan membimbangkan kerana penyakit kanser leukemianya kembali melanda.

Dengan semua rentetan peristiwa yang telah dan sedang berlaku kini apakah ia menjadi tanda kemunculan Al-Mahdi dan menjadi tanda keluarnya Ashabu Rayati Suud? Apakah kita masih ingin mempertikaikan bahawa kita kini sudah berada di ambang akhir zaman yang kritikal? Apakah anda masih ingin memandang remeh tentangnya? Terpulang.
 _______________________________________________

[1]. [HR. Abu Daud: Kitab al-jihad no. 2125, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1959.]
[2]. [Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan Bab Khurujil Mahdi 2: 1467: Mustadrak Al-Hakim 4: 463-464. Dan dia berkata, “Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain.” (An-Nihayah fit Firan 1:29 dengan tahqiq DR. Thana Zaini).]
[3]. [Pada laman Saudipolitics.com, 1 Januari 2004, Tony Khater, THE UNITED STATES AS UNWANTED BROKER IN ROYAL SECESSION; IT WANTS BANDAR BIN SULTAN AS CROWN PRINCE”]
_______________________________________________

Wed Apr 11, 2012 9:13PM GMT

Evidence suggests that Saudi Arabia's current ruling structure is on its last legs and that the leading configuration in the kingdom will undergo two changes in the course of the next year.

The senior members of the Saudi royal family are looking increasingly frail, read an article run by the Foreign Policy magazine on Tuesday.

This week, 89-year-old King Abdullah presided over the council of ministers’ meeting from his own palace in the capital Riyadh instead of traveling to the council’s building.

According to speculations, nearly-78-year-old Crown Prince Nayef bin Abdel Aziz’s cancer, probably leukemia, has also returned after a respite of several years.

Nayef left the country one month ago for Morocco, but ended up in the US for "routine" medical tests. The state news agency said on Wednesday that he has returned to the kingdom.

According to the article, in the current situation, 76-year-old Prince Salman bin Abdel Aziz, who was appointed minister of defense in November after the death of the then Crown Prince Sultan bin Abdel Aziz Al Saud, has assumed the role of leadership.

Saudi newspapers have been filled, over the recent weeks, by reports and photos of Salman visiting military units across the country.

Even if Salman becomes the king, there is no certainty that he will reign for long given his old age and evidence pointing to his poor health condition. He has had at least one stroke and photographs suggest that his left arm does not function as well as his right one.

It seems that the world's largest oil exporter and a leader in the Arab world might still be a long way from political stability, said the piece.

The prospect of Salman’s succession to the crown is vague and the question of who should accede to the throne after him, even more so, it added. In the interim, it is easy to predict an increasingly open rivalry between the sons of Abdullah, Nayef, and Salman.

The piece concluded that, given the unrest in Syria, chaos in Yemen, and diplomatic pressures on Iran, the uncertainty regarding Saudi Arabia’s immediate future is deteriorating the situation in the Middle East.

The current monarch is, meanwhile, infuriated over Washington’s refusal to share with him its views on Iran.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow by Email

Lan yusliha akhiri hazihi ummah illa ma aslaha awwaluha

(Lan yusliha akhiri hazihi ummah illa ma aslaha awwaluha)

Telah berkata Imam Malik bin Anas (RA):

"Tidak akan sekali-kali dipulihkan akan ummat yang akhir ini melainkan kembali kepada cara pemulihan ummat yang terdahulunya (Para Sohabah RA) [ash-Shifaa of Qaadee ‘Iyyaadh, (2/676)]

Imam Malik (RA) said:

“This latter ummah cannot be reformed except by that way which has reformed the earlier one (The Companions of RasuluLlah SAW).”